Polemik Pengangguran Terdidik

48 views
Polemik Pengangguran Terdidik

Polemik Pengangguran Terdidik

Polemik Pengangguran Terdidik – Pengangguran terdidik diartikan sebagai seseorang yang tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan pasca lulus pada jenjang pendidikan tertentu. Kondisi tersebut terjadi karena tingginya kompetisi di dunia kerja dan peluang yang ada tidak begitu banyak, selain juga disebabkan oleh berbagai faktor yang melatarbelakanginya.

Seperti kita ketahui bersama bahwa saat ini di Indonesia persaingan dalam memperoleh pekerjaan semakin berat. Setiap tahun kampus perguruan tinggi negeri dan swasta selalu meluluskan wisuda diploma, sarjana, magister, dan doktor hingga ribuan bahkan puluhan ribu. Padahal, lapangan pekerjaan tidak banyak dan lowongan yang dibuka jumlahnya terbatas. Sehingga konsekuensinya terjadi penumpukan lulusan kampus (terutama di pulau Jawa) yang ujung-ujungnya menjadi pengangguran terdidik.

Menurut data yang dirilis Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) tahun 2018 jumlah pengangguran di Indonesia sebanyak 630 ribu jiwa lulusan sarjana dari kampus negeri dan swasta (Pikiran Rakyat, 26/03/2018). Lebih lanjut diungkapkan bahwa total pengangguran di Indonesia dari berbagai lulusan sekolah SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi sebanyak 7 juta jiwa. Kondisi demikian cukup memprihatinkan mengingat Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, tapi masyarakat belum bisa menikmati kekayaan dan hidup sejarhtera.

Tidak heran jika pada pemerintahan Jokowi pada kabinet kerja akan ada rencana pembuatan kartu pra kerja yang kini payung hukum nya (UU APBN 2020) sedang digodok oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan realisasinya pada tahun 2020 (Kompas, 24/04/2019). Kartu pra kerja ini harapannya bisa mengcover dan bisa memberikan solusi alternatif bagi para lulusan anyar (fresh graduate) yang sedang berjuang memperoleh pekerjaan. Karena untuk memperoleh pekerjaan diperlukan dana yang tidak sedikit, baik untuk membuka usaha mandiri maupun mencari pekerjaan dengan melamar kerja pada instansi/perusahaan tertentu.

Review Kurikulum
Kurikulum pendidikan di perguruan tinggi hendaknya disesuaikan dengan realitas kehidupan yang ada di lapangan. Idealnya ada keahlian beragam yang perlu dimiliki oleh lulusan sarjana. Selama ini kurikulum lebih ditekankan kepada aspek keilmuan yang spesifik, dan ditambah dengan mahasiswa jaman now yang cenderung pragmatis hanya mengejar nilai IPK yang bagus. Padahal nilai akademik tidak menjamin kemudahan dalam memperoleh pekerjaan. Mestinya para calon sarjana dibekali dengan skill yang memadai sebelum masuk dunia kerja. Tentu selain hard skill, juga perlu soft skill.

Permasalahan yang sering timbul adalah para sarjana setelah lulus kuliah adalah ingin memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan. Padahal tidak semua lulusan bisa terserap di dunia kerja sesuai background pendidikan. Mestinya perlu perubahan mindset para sarjana, dari mencari kerja diubah dengan membuka lapangan kerja.

Bagaiamana mungkin sarjana menciptakan lapangan kerja jika saat menimba ilmu tidak dibekali dengan keterampilan berwirausaha yang memadai. Inilah yang kemudian perlu ditekankan pada aspek kurikulum pendidikan di Indonesia. Mestinya kurikulum pendidikan lebih diarahkan kepada kajian wirausaha baik teori maupun praktek dengan porsi yang lebih besar, dibandingkan dengan kajian keilmuan pada disiplin ilmu tertentu.

Ketika lulusan sarjana tidak terserap pada dunia kerja yang sesuai background pendidikan, mereka bisa membuka lapangan kerja sendiri dengan berwirausaha mandiri seperti yang dipelajari dan dipraktekkan di bangku kuliah. Sehingga harapannya sedikit-banyak bisa mengurangi angka pengangguran terdidik di negeri ini.

Kerjasama Kemitraan
Di Indonesia hanya ada beberapa kampus yang mengakomodasi lulusannya. Kampus tersebut memang didesain sebagai sekolah kedinasan. Artinya para lulusan setelah tamat menempuh pendidikan langsung ditempatkan untuk bekerja di instansi pemerintahan. Sehingga mereka tidak perlu repot dan pusing mencari kerja setelah lulus. Meskipun demikian, pada kenyataannya sekolah kedinasan selalu diperebutkan oleh ribuan calon pendaftar, karena memang peminatnya terlalu banyak, sedangkan kursi yang tersedia terbatas.

Bagi kampus perguruan tinggi umum dan keagamaan yang bukan sekolah kedinasan, umumnya lepas tangan setelah mahasiswa lulus dari bangku kuliah. Sehingga mau tidak mau, suka tidak suka para lulusan sarjana mencari kerja sendiri-sendiri tanpa ada campur tangan dari perguruan tinggi tempat menimba ilmu. Ada yang langsung memperoleh pekerjaan, dan tidak sedikit yang akhirnya menganggur, karena tingginya tingkat persaingan dunia kerja.

Ini merupakan PR besar bagi dunia pendidikan kita. Mestinya perguruan tinggi memikirkan nasib lulusannya. Minimal ada kerjasama antara pihak kampus dengan instansi/perusahaan/lembaga pemerintah atau swasta untuk menyalurkan para lulusan agar setelah lulus bisa bekerja disana tanpa perlu melamar kerja. Terutama bagi para lulusan yang tidak mampu secara ekonomi dan punya prestasi akademik yang bagus saat mengenyam pendidikan di bangku kuliah, semoga.

Tags: #Jumlah Pengangguran #Lowongan Kerja #Lulusan Sarjana #Masalah Pengangguran #Pengangguran Terdidik #Tenaga Kerja

Silahkan Komentar