Menumbuhkan Minat Menulis Generasi Milenial

61 views
Menumbuhkan Minat Menulis Generasi Milenial

Menumbuhkan Minat Menulis Generasi Milenial

Menumbuhkan Minat Menulis Generasi Milenial – Generasi milenial diartikan sebagai generasi anak muda yang mempunyai minat dan perhatian yang serba modern, kritis, update informasi aktual, dengan gaya hidup yang serba instan dan mudah menerima pembaharuan dalam segala lini kehidupan. Generasi milenial lebih banyak hidup di dunia maya dibanding di dunia nyata. Dengan adanya gadget ditangannya, maka dia bisa berinteraksi dengan siapa saja, kapan saja, dimana saja tanpa adanya batasan ruang dan waktu.

Generasi milenial memang akrab dengan kegiatan menulis, meskipun kadang-kadang tulisannya berpotensi membahayakan diri sendiri, karena tanpa adanya pikir panjang dengan mudah merangkai kata untuk menghakimi seseorang di media sosial, atas pendapat dan perbuatan seseorang yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang dia pegang.

Antusiasme generasi milenial terhadap dunia tulisan bisa dikatakan cukup tinggi, akan tetapi belum disertai dengan data dan fakta atas suatu permasalahan yang ada, dan juga belum bisa memberikan sumbangan pemikirian yang logis dan sistematis terhadap kemajuan bangsa dan tanah air Indonesia.

Mestinya jika kegemaran menulis disalurkan berupa opini yang dimuat di surat kabar baik cetak maupun digital akan mendapatkan nilai lebih. Selain berpotensi terkenal akan ide-ide kreatif dan pendapat yang kritis terhadap suatu kebijakan pemerintah, juga akan mendapatkan apresiasi dari pembaca.

Sejauh ini memang kegiatan menulis erat kaitannya dengan aktivitas membaca. Seseorang yang gemar menulis panjang dan lebar hampir bisa dipastikan gemar membaca, karena perbendaharaan kata yang tersimpan dalam memori otak akan cukup banyak, sehingga tidak sulit merangkai kata hingga berpuluh-puluh lembar halaman.

Menumbuhkan minat menulis opini di media massa bagi generasi milenial memang tidak mudah. Karena selain diperlukan peran aktif dalam update perkembangan isu aktual, juga perlu dibekali keilmuan yang memadai. Sehingga sumbangan pemikirian bisa mudah diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, karena memang apa yang ditulis mempunyai keberpihakan kepada rakyat baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik, pendidikan, hukum dan HAM.

Mengenai media mana yang tepat untuk menyalurkan aktivitas menulis, sebenarnya tidak sulit untuk menemukannya. Di Indonesia ada banyak sekali surat kabar nasional dan lokal/daerah, baik versi cetak maupun versi website. Media mainstream tersebut merupakan sarana yang tepat untuk belajar dan mengasah kemampuan menulis generasi milenial.

Jika tulisan artikel opini yang dikirim bisa dimuat disalah satu surat kabar, artinya pihak redaksi percaya bahwa tulisan tersebut memenuhi syarat yang ditetapkan oleh surat kabar sebagai sebuah opini publik yang baik dan sesuai standar penulisan Bahasa Indonesia dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Sehingga dari situ sudah saatnya para generasi milenial indonesia bisa memanfaatkan ruang aspirasi publik untuk mengemukakan uneg-uneg yang ada dalam fikiran, untuk selanjutnya dituangkan kedalam tulisan berbentuk opini.

Kolom opini yang ada dalam surat kabar memang ditujukan untuk publik/masyarakat luas sebagai bentuk pendapat dan aspirasi masyarakat atas suatu permasalahan aktual. Hal ini tentu berbeda dengan menulis status di media sosial yang selalu dibayangi oleh UU ITE. Dimana jika ada pihak-pihak lain yang merasa dirugikan dan dicemarkan nama baiknya bisa berpotensi sampai ke meja hijau.

Kemudahan menulis status di media sosial dan dibaca ribuan orang cukup berisiko hoaks dan menimbulkan kegaduhan sosial jika tidak disertai dengan data dan fakta yang jelas. Terlebih lagi jika tulisan yang di unggah viral dan menjadi trending di jagad maya. Berbeda dengan tulisan opini di media massa, dimana artikel yang masuk akan disaring dan diseleksi oleh pihak redaksi, sehingga tulisan-tulisan yang berkualitaslah yang akan dimuat di surat kabar.

Bagi generasi milenial, terutama mahasiswa aktif di perguruan tinggi, keterampilan menulis perlu di asah sejak dini. Hal itu dikarenakan sebagai upaya melatih dan belajar menyusun sebuah tulisan yang berbobot agar nantinya ketika menghadapi tugas akhir skripsi sudah tidak asing lagi dengan kehidupan menulis dan mengolah data.

Tidak sedikit mahasiswa yang memilih mengundurkan diri (drop out) dari studinya disebabkan oleh skripsi yang tak kunjung selesai digarap. Kejadian ini tentu cukup memprihatinkan, mengingat tahapan studi tinggal selangkah lagi malah tidak dilaksanakan/dikerjakan dengan baik. Mestinya jika mahasiswa punya keterampilan menulis, tidak akan kesulitan menghadapi tugas akhir berupa skripsi, karena sudah terbiasa dengan kegiatan tulis menulis.

Tags: #Artikel Ilmiah #Belajar Menulis #Generasi Milenial #Jaman Now #Mahasiswa Baru #Menumbuhkan Minat #Minat Menulis #Pelajar Indonesia

Silahkan Komentar